Bersama Warga
Pengok RT 033/ RW 09 Demangan, Yogyakarta
Oleh: Achmad Sulaiman
Malam ini, malam dini hari ini,
tibalah saa-saat dimana kita semua,
putra-putri pertiwi dari seluruh persada tanah air
Negara Kesatuan Republik Indonesia mengheningkan
cipta,
menyambut detik-detik proklamasi kemerdekaan
atas nama cinta tanah air; cinta bangsa Indonesia,
dan cinta sesama manusia di seluruh penjuru dunia.
 |
| Koleksi Pribadi |
dengan membaca lagi saat-saat penting dan genting
sejarah perjuangan bangsa,
dimana bung Karno dan bung Hatta bersatu
demi mencapai kemerdekaan Indonesia
mata hati dan jiwa kami basah oleh air mata haru
degub jantung dan detak nadi mengencang menantikan
kebebasan
dari cengkraman penjajahan Belanda dan Jepang
kini kami masih melihat wajah Indonesia;
genung-gunung biru berselendang awan putih
sebersih niat suci para pahlawan yang gugur di medan
perang
mata kami masih teduh oleh hamparan padi menguning
keemasan
pohon-pohon kelapa yang melambai-lambai di tepi pantai
sehingga kami tahu bahwa tanah air yang elok dan
permai
adalah surga kecil di dunia yang Tuhan ciptakan
ya, itulah Indonesia, negara kesatuan dengan
pulau-pulau cantik
yang tumbuh di atas samudera dalam garis lurus
khatulistiwa
yang diperjuangkan ratusan tahun oleh para patriot
tanpa pamrih
patriot yang mengikhlaskan jiwa raganya
atas nama bangsa dan anak-anak cucu mereka
malam dini hari ini adalah malam yang sakral untuk
merenung
untuk menyadari hidup kami dalam pelukan bumi Indonesia,
di atas tanah gambur yang dibangun dari lautan darah
para pejuang
namun, betapa sedih hati kami yang senantiasa lupa
memaknai perjuangan yang mereka kobarkan
hingga malam dini hari ini, kami masih meminum air
Indonesia
memakam buah-buahan dan beras Indonesia
dan menghirup udara segar yang tak lain adalah nafas
Indonesia
malam ini, malam napak tilas 70 tahun kemerdekaan bangsa
Indonesia,
kami tersenyum sekaligus malu membaca lagi puisi
sakti bung Karno:
“Jikalau aku melihat gunung gunung membiru
Aku melihat wajah Indonesia
Jikalau aku mendengar lautan membanting di pantai bergelora
Aku mendengar suara Indonesia
Jikalau aku melihat awan putih berarak di angkasa
Aku melihat keindahan Indonesia
Jikalau aku mendengarkan burung perkutut di pepohonan
Aku mendengarkan suara Indonesia
Jikalau aku melihat matanya rakyat Indonesia di pinggir jalan
Apalagi sinar matanya anak-anak kecil Indonesia
Aku sebenarnya melihat wajah Indonesia”
malam ini kami mengenang jasa-jasa para pahlawan
memaknai perjuangan bangsa, dan hakikat kemerdekaan
maka dengan lagu kebangsaan, kami semarakkan kemenangan
sungguh kami bahagia penuh tetesan air mata haru
namun kami pun sedih, sebab kami hanya sanggup
berdoa
tanpa sanggup melanjutkan perjuangan para pahlawan
lantaran kami tahu bahwa masih banyak sanak-saudara
kami
yang masih bergelimang kemiskinan,
pengangguran menyergap
hampir setiap keluarga
kesenjangan makin
menganga dan korupsi bebas merajalela
namun, atas nama para pejuang kemerdekaan
dan para pendiri bangsa Indonesia
serta demi bung Karno dan bung Hatta
kami mantapkan hati dan jiwa bahwa;
kami adalah generasi yang gigih
kami bukan generasi penuh keluh kesah
yang hanya memupuk sejuta gundah
lantaran jiwa kami telah merdeka
dan siap melanjutkan perjuangan
kini, genap sudah 70 tahun Indonesia Merdeka sejak 17 Agustus 1945
dimana bung Karno dan bung Hatta menyatakan kemerdekaan Indonesia
ke seluruh dunia dengan ikrar suci bernama; Proklamasi:
Proklamasi:
Kami bangsa Indonesia dengan ini
menyatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal yang mengenai pemindahan
kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo
yang sesingkat-singkatnya.
Jakarta, 17 Agustus 1945
Atas nama bangsa Indonesia,
Soekarno-Hatta.
Merdekalah bangsa dan tanah air Indonesia,
sang saka merah putih dikibarkan, lagu Indonesia
Raya di nyanyikan
penuh khidmat dan rasa syukur yang
stinggi-tingginya.
dan demi membangung negara kesatuan Republik
Indonesia
maka terciptalah pembukaan Undang-Undang Dasar
1945 dan Pancasila yaitu:
Untuk memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan
ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan
sosial, maka disusunlah Undang-undang Dasar Negara Indonesia yang terbentuk
dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan
berdasar kepada:
1. ke-Tuhanan Yang Maha Esa,
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab,
3. Persatuan Indonesia,
4. Kerakyatakan yang dipimpin oleh khidmad kebijaksaan
dalam permusyawaratan perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
atas pembacaan proklamasi
dan mukaddimah Undang-undang Dasar ’45 serta
pancasila
kami berseru secara bersama-sama:
merdekalah seluruh rakyat Indonesia dari Sabang
sampai Merauke!
Kami, atas nama warga Pengok RT 033/ RW 09,
Demangan, Yogyakarta, 16-17 Agustus 2015