Kontributor:
Achmad Sulaiman
Tongkat Matahari dari
Mataram
tongkat
matahari menegak di langit Mataram
di
kampus-kampus para pesilat bertarung intrik politik
di
persimpangan mahasiswa menabur bunga-bunga bangkai
dan
dupa amarah songsong nurani ke puncak birahi kekuasaan
kami,
penerus si binatang jalang di hutan-hutan yang tersisa.
lalu
dewa penjaga meniupkan mimpi mahkota adikuasa,
di
tidur kami, dengan semesta definisi politik sebagai panglima.
sementara
kami lupa, kami berpura-pura tak mengerti apa-apa
benar,
kami tak peduli pada persiden, pada menteri, dan
wakil-wakil
rakyat yang diam-diam menyusun rencana jahat
itulah
sebab, kami tak rela dan enggan membuat persutujuan
untuk
apa bicara dengan raga yang batu tak berjiwa
toh,
yang namanya nurani tetap tak terjamah
kecuali
kami lelah dan lengah atau kehilangan sukma
2013-2015
Lukisan Pembantu di Kepala
sepanjang
malam di kereta, tubuhku
dikerumuni
burung-burung hantu masa silam
pada
tajam bola matanya, lukisan kelam
dengan
sekian arsitektur rumah-tumah mewah
pekarangan
penuh tanaman hias dan kolam
tapi
warna temaram menyelimutinya
pintu-pintu
utama berderit, muncullah wajah
pucat
pasi pembantu kesepian dan sedih
“kapan
majikanku pulang, kemana perginya”
kepalaku
menoleh keluar jendela kereta
lampu-lampu
dikejauhan sama temaramnya
kucoba
mencipta bunyi sekali tiupan
berharap
sampai di telinga pembantu yang sepi
tetapi,
ia hanya isi lukisan kepalaku
2013
Kabar Maling dan Nira
lelaki
berselendang genta sapi dari neneknya
ditemui
mimpi pelarian sapi dari kandang tetangga
lelaki
itu saksi mata satu-satunya bapaknya
dan
selalu berani bersaksi di hadapan warga
“ibu,
kembang mayang di kebunku,
niranya subur sejak tiga purnama lalu.
ke
depan aku akan memiliki
segudang
dula merah selamatan”
lelaki
bicara pada ibunya lewat handphone
2013
Tunggu di Barat!
masihkah
warna langit sore dapat dipahami
pada
sekawanan bangau pulang ke selatan
pada
pucuk-pucuk terbelai-belai angin kemarau
tatkala
mata-mata bayi ditelan kesibukan
nuraniku
merindukan masa kanak-kanak
bentangkan
senyum di terbang layang-layang
berlarian
di atas rerumput dengan kaki telanjang
“tunggu
di barat, tunggu!” teriak-teriak riang
sore
ini aku sedih dan pergi ke lebirin puisi
aku
cari pematang silam dan pepohonan nyiur
siapa
kira senyum dan layanganku ada di sana
sedihku
akut, bergelayut pedih, minggat
ke
perkampungan orang-orang kaya liur tawa
“kini,
dunia tidak terbingkai langit sore, teman!”
2013-
2014
Mirip Sangkuriang
ya
Allah, engkaukah itu
yang
mengutus titisan Khatijah
dengan
binar-binar mukjizat
di
kedua telapak tangannya ?
hadir
kepadaku yang tersiksa
di
kulit materi-materi kegelapan
sungguh
aku merasakan lekat-lakat
getar
suntuh kasihmu dalam dada
benar
aku bukan sang nabi
misal
kahadiran Balqis bagi Sulaiman
atau
Hajar baginya Ibrahim
barangkali
mirip Sangkuriang
yang
tergenapi pekat niatnya
yang
tercemari fitrah kemanusiaanya
2013
Madah Pujangga
kita
hidup dengan dunia yang kita cipta sendiri
tanpa
dinding ruang dan batas waktu yang nyata
pertemuan
kita tunaikan dengan segala makna
yang
ada dan tiada sekedar soal kefanaan
setiap
detik usia menua, kita diam di tempat
saling
manjauh untuk menyatakan kedekatan
tidakkah
keintiman sepatah kata dunia
bagian
dari jiwa-jiwa kita yang menyatu?
duduklah
Dige, gerai rambutmu di pipiku
biar
kusempurnakan senyummu tiap waktu
dengan
bibirku yang liar di lidahmu
maka
engkaulah saksi sekaligus siksa
di
kehidupanku yang berkerumun soneta
dari
sisa madah pujangga masa lalu
2013
Achmad
Sulaiman adalah pemangku blog pilihan rakyat
(pilihanrakyatnews.blogspot.co.id). Juga seorang blogger dan penulis lepas.
Sesekali diundang menjadi Notulen, moderator, dan pembaca puisi.