 |
| Poster RTM/Ilustrasi |
PILIHANRAKYAT.ID,
Pamekasan – Para seniman Madura baik yang bermukin dan berkerja di Madura
maupun yang tinggal dan bekerja di tanah rantau (diaspora) akan menggelar
festifal seni pertunjukan dan forum pertemuan gagasan yang diberi nama Remo
Teater Madura (RTM).
Pihak penyelenggara, Arsita Iswardhani mengatakan, RTM ini bertujuan untuk membangun
infrastruktur pengetahuan kesenian yang baik melalui program seperti
pertunjukan, pameran, diskusi, dan workshop.
“Remo adalah
tradisi ‘arisan’ dan/atau ‘pertemuan’ di mana warga dapat membangun hubungan
sosial dengan warga lainnya. Remo juga berfungsi sebagai media perkumpulan
dalam rangka agenda musyawarah untuk membicarakan soal-soal yang dihadapi
warga,” Arsita dalam keterangan resminya.
Selain itu, jelas
Arsita, tradisi ini dapat membangun kepedulian sosial antar warga di satu kampung
dengan cara memberi sumbangan kepada warga lain yang kurang mampu atau untuk
merencanakan agenda kepentingan bersama seperti membangun infrastruktur desa
seperti jalan, tempat ibadah, dan lain-lain.
Acara yang akan digelar di
Vihara Avalokitesvara Kabupaten Pamekasan pada tanggal 28-30 September 2018 ini mengusung tema
utama
“Berpijak Pada Tanah”.
“Tema
tersebut
dipilih sebagai satu
usaha
para seniman Madura untuk (1) ‘terlibat’
dalam wacana dan isu sosial di Madura dan (2) menawarkan diskusi dengan ragam
sudut pandang pembacaan atas tanah melalui beberapa karya-karya seniman Madura yang
ditampilkan dalam festival,” jelas Arsita.
Menurut Arsita, “Pemilihan ‘Tanah’ sebagai pijakan festival adalah sebuah cara membicarakan
Madura hari ini. Salah satu pokok penting apabila membicarakan Madura hari ini
terutama yang berkaitan dengan Madura sebagai etnis dan Madura sebagai wilayah
atau teritori geografis adalah ‘Tanah’.
“Melalui
titik ini, RTM bisa membicarakan Tanah dalam dua bingkai percakapan sekaligus,
yaitu tanah sebagai ikatan primordial masyarakat Madura—bagaimana orang Madura
memaknai tanah, dan bagaimana makna tanah sesungguhnya merujuk pada jagad kene’ (jagat kecil/yang tampak)
dan jagad raja (jagat besar/yang tak
tampak) yang dijaga supaya seimbang dan harmonis—dan tanah sebagai sumber daya
dan lahan dalam konteks sosial-politik dan ekonomi: perebutan dan penguasaan
tanah, alih fungsi lahan, kapitalisasi dan privatisasi, dan lain-lain,” jelasnya.
Pagelaran RTM kali
bakal menghadirkan karya-karya seniman (di) Madura
(Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep) dan seniman-seniman Madura yang
sudah tidak bermukim di Madura, seperti Suvi Wahyudianto, Hari Ghulur dan Moh.
Wail Irsyad. Tak hanya teater, RTM juga menghadirkan pertunjukan tari,
performance art, pameran seni rupa, diskusi, dan workshop. Detil agenda
terlampir.
“Keterlibatan
Teater Garasi/Garasi Performance Institute dalam festival ini adalah bagian
dari guliran pertemuan dan interaksi dengan seniman dan komunitas-komunitas
seni di Madura,”
kata Arsita.
Di awal tahun 2017, lanjutnya,
Teater Garasi/Garasi Performance Institute memulai
sebuah program bernama AntarRagam di Madura dan Flores. AntarRagam adalah inisiatif baru kami
dalam menjalin kontak dan pertemuan-pertemuan baru dengan tradisi, kebudayaan
serta seniman dan anak-anak muda di kota-kota di luar (pulau) Jawa, sebagai
suatu proses 'unlearning' dan pembelajaran ulang atas (ke)Indonesia(an) dan
(ke)Asia(an).
“Karya dan proyek seni
(pertunjukan) yang kemudian tercipta di dalam dan di antara kontak serta
pertemuan ini diharapkan bisa melahirkan pengetahuan baru dan narasi-narasi
alternatif atas kenyaataan-kenyataan perubahan dan keberagaman sosio-kultural
di Indonesia dan Asia,” ujarnya.
“Kontak dan interaksi
kami yang berupa riset, diskusi, workshop, dan residensi kemudian menggulirkan
beberapa peristiwa penciptaan dan interaksi publik yang dilakukan mitra-mitra
kami di kedua tempat tersebut,” tambah Arsita.
Pewarta: Riskiana
Sulaiman
Editor: Didik
Hariyanto
Labels: Culture, Nasional, News