Cinta ibarat
anggur.
Barang siapa
meneguknya,
ia akan merasa
semakin dahaga
– Jalaluddin Rumi
NUSANTARANEWS.CO – Bulan-bulan
politik di tanah air yang penuh dengan persaingan dan perseteruan antar
kelompok sudah selesai. Tetapi, perseteruan tidak jarang dibawa ke wilayah pribadi
yang memisahkan silaturahmi antar kerabat, sahabat dan tetangga.
“Akibatnya,
kita mengalami kebingungan karena tak adanya pedoman moral yang dapat dipercaya
serta terluka secara mental akibat pertikaian yang dihayati terlalu dalam,”
kata kurator pameran Seni Rupa bertajuk “Tanda Cinta”, Faisal Kamandobat
melalui keterangan resminya, Selasa (16/7/2019).
Menurut
Faisal, keadaan itu memerlukan usaha mediasi secara politik di level elite,
rekonsiliasi di level sosial, dan efisasi atau penyembuhan di level mental.
Dalam rangka hal itu, kata dia, sejumlah seniman mengajak masyarakat luas, baik
profesional seni maupun masyarakat umum, untuk berpartisipasi dalam pameran
seni rupa bertajuk Tanda Cinta yang akan diselengarakan di Parak Seni,
Yogyakarta—sebuah ruang persemaian kultural yang dididirikan oleh pematung
monumental Basrizal Albara.
 |
| Lukisan karya Ahmad Sobirin, Mata Matahari |
Pameran
tersebut akan diikuti oleh para seniman berpengalaman yang memiliki keragaman
teknik dan tematik, yaitu Basrizal Albara, Robert Nasrullah, Laksmi Shitaresmi,
Ahmad Sobirin, Rismanto, Ampun Sutrisno, Nugroho, Watie Respati, Yaksa Agus dan
Purwanto.
Pameran
yang akan berlangsung pada Sabu, 20 Juli 2019 ini akan akan dibuka oleh pendiri
dan direktur ArtJog, Heri Pemad dan dimeriahkan oleh pertunjukan musik dari Ikhlas
Experience dan art performer Yakob
Varame.
Faisal
menilai, di mata para seniman, cinta dapat menjadi wahana untuk menyembuhkan
luka-luka batin bangsa akibat pertikaian yang tak berkesudahan. Tentu saja cinta
tersebut bukan cinta layaknya di masa remaja, melainkan cinta yang telah digali
lewat renungan yang mendalam serta dikembangkan secara kreatif ke dalam
berbagai dimensi dan material artistik.
“Hasilnya
adalah cinta yang memiliki makna kemanusiaan dan spiritual, melampaui perbedaan
pilihan politik, kelompok sosial, ideologi dan agama,” kata peneliti di
Abdurrahman Wahid Center for Peace and Humanities Universitas Indonesia
(AWCPH-UI), Jakarta itu.
Di
samping alasan kontekstual, kata Faisal, tema cinta dipilih oleh para seniman
karena memiliki kandungan pemikiran yang kaya dan dalam. Dalam sejarah seni,
mungkin tak ada tema yang lebih populer dan langgeng sebagaimana cinta. Ia
selalu menggoda para seniman dengan misteri yang tak habis-habis diurai,
digambarkan dan diciptakan secara berkelanjutan.
“Ia
ibarat buku yang tak habis dibaca karena selalu memberi makna sebanyak yang
kita minta,” ujarnya.
Dapat
dikatakan bahwa misteri dan energi cinta adalah misteri dan energi umat manusia
sendiri dengan wajah kehidupan yang dijalani—sebagaimana pernyataan sebagian
mistikus dan filsuf. Jejaknya tak hanya ditemukan pada buku-buku,
lukisan-lukisan, komposisi musik dan drama, melainkan juga pada batin setiap
insan pada bentang berbagai peradaban.
“Adam
dan Hawa berani memakan buah terlarang mungkin karena mereka tahu buah itu
merupakan kunci yang harus diambil untuk menemukan cinta. Dengan kata lain,
demi cinta mereka rela kehilangan surga. Maka terjadilah: perkenalan mereka
yang menggetarkan dengan nama-nama sebagai layar untuk mengenal dunia,
perjumpaan kembali Adam dengan Hawa yang menggetarkan, tragedi perkawian
anak-anak mereka sebagai muasal lahirnya konsep baik dan buruk, serta butiran
keringat yang mengucur sebagai mata uang untuk ditukar kembali dengan firdaus
yang hilang serta kesucian insani yang telah pudar,” urainya.
 |
| Patung dari batu andesit karya Nugroho, Dancing |
Sejak
itu, kata penyair pemilik buku puisi “Alangkah Tololnya Patung Ini”, puisi-puisi
ditulis dan dinyanyikan, kuil-kuil dibangun dan istana-istana didirikan sebagai
pernyataan cinta. Manusia rindu pada surga yang telah hilang dan mencoba
memperolehnya kembali lewat kerja keras sepanjang titian zaman. Bersama itu, lahir
para seniman, pemikir, sultan dan ratu yang hidup sebagai bagian dari cinta.
Kegelisaan mereka dalam mengalami cinta –perjumpaan dan perpisahan, kesetiaan
dan pengkhianatan, kelahiran dan kematian—menjadi energi yang mendorong
perkembangan sejarah manusia.
Lebih
lanjut Faisal menejelaskan bahwa, pameran seni rupa Tanda Cinta merupakan usaha
memenuhi panggilan arus kolosal di atas. Para seniman telah mengamati,
menggambarkan dan mencipata ulang cinta; begitu dekat tetapi begitu gaib,
begitu kuat tapi juga begitu lembut.
“Data-data
objektif bisa ditemukan pada jutaan lembar mitologi dan etnografi, namun untuk
menjadi daya kreatif, cinta tak cukup sekedar sebagai pemikiran atau hasil
pengamatan, melainkan juga sebagai sebuah pengalaman, penghayatan dan pengorbanan.
Hanya dengan itu cinta bisa menjadi jalan kembali menuju firdaus yang silam,”
jelas Faisal.
Dalam
seni kontemporer—di mana butiran cahaya surga yang dipetik oleh para seniman
tak hanya ditaruh di kuil dan museum—cinta, kata dia, telah menjelmakan dirinya
ke dalam kreasi artistik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kita tak
perlu bersuci dan membayar tiket untuk mengenal aura lukisan-lukisan dan
arca-arca; kisah cinta pun tak semata tentang roman para raja dan ratu serta
brahmana dan kesatria, tetapi tentang cinta yang telah menjadi kebiasaan setiap
insan—apapun latar belakang pekerjaan, jenis kelamin dan pendidikannya,
masih-masing mendapat “jatah” cinta.
“Dalam
pameran ini, kita menemukan cinta yang purba pada paras bongkahan batu yang
dipahat dengan teknik yang piawai, liukan pohon yang diserut demi menghasilkan
unsur musikal, gambar perabot teknologi yang membawa gelombang hati pada
getaran atom di udara, rumpun bunga yang menggeliat layaknya kobaran gairah,
atau lambang tradisi yang mengajak kita mengingat kosmologi para moyang, serta
wajah batu yang ditatah sebagai manifestasi pencarian spiritual. Begitulah
cinta mengungkapkan dirinya pada beragam bentuk dan warna, rupa-rupa benda dan
kandungan batinnya,” paparnya.
Dengan
cara itulah, katanya labih lebih lanjut, cinta dalam seni kontemporer tak
semata wawasan yang dibayangkan layaknya
karya seni di kuil-kuil dan museum-museum yang berisi kisah para dewa,
melainkan cinta yang dapat dialami dan dihayati layaknya sepotong senyuman yang
biasa kita jumpai namun tiba-tiba dapat menggetarkan hati.
“Para
seniman telah mendedikasikan bakat, keringat dan waktunya untuk menebus surga
yang jauh dan tinggi agar menjadi dekat dan membumi. Dan seperti yang kita
saksikan, usaha yang mereka lakukan tidak sia-sia,” tandas penyair dan peminat
seni rupa itu. (red/nn)
Labels: Culture, Nasional, News